Ada sejumlah pertanyaan besar belum terjawab dalam fisika. Satu di antaranya adalah dark matter atau materi gelap. Menurut para fisikawan, sebagian besar materi di alam semesta tak memancarkan atau memantulkan cahaya. Mereka tak bisa dilihat, tak bisa dirasakan, tapi bisa diuji keberadaannya. Materi gelap bisa dideteksi dari radiasi dan gaya gravitasinya terhadap benda-benda yang terlihat.

Seabad silam, di muka forum Akademi Sains Prussia di Berlin, Albert Einstein mempresentasikan teori Relativitas Umum. Teori Einstein mengungkap sebagian rahasia alam semesta. Lewat teorinya, Einstein menjelaskan pengaruh medan gravitasi terhadap cahaya, ruang, dan waktu. Di depan medan gravitasi sangat besar, lintasan cahaya dan waktu pun bisa terbelokkan. “Aku kelelahan, tapi kesuksesan itu terasa sangat agung,” kata Einstein, beberapa hari kemudian, seperti dikutip majalah Smithsonian.

Teori itu melambungkan nama Einstein ke langit, menjadikannya selebritas di antara fisikawan. Barangkali, sampai detik ini, hanya Isaac Newton dan Stephen Hawking yang menyamai popularitas Einstein. Einstein dan Newton sudah lama tiada, tinggal Hawking yang sudah sepuh dan berbadan ringkih.

Pada masa hidupnya, fisikawan Austria, Erwin Schroedinger, begitu berambisi menggusur kepopuleran Einstein. Baik Schroedinger maupun Einstein sama-sama berambisi “menggabungkan” teori Relativitas dan teori Kuantum. Persaingan itu membuat persahabatan mereka berantakan.

Albert Einstein dan Erwin Schrodinger / UniverseToday

“Aku bilang kepadamu, Moffat, Einstein adalah orang tua yang bodoh,” kata Schroedinger kepada temannya, John Moffat, seperti dikutip Salon. Pada 1947, lewat harian Irish Times, Schroedinger mengumumkan telah berhasil menyatukan teori Relativitas dan teori Kuantum. Pengumuman itu prematur. Teori Schroedinger tak terbukti. Hingga akhir hayatnya, baik Einstein maupun Schroedinger gagal memenuhi ambisi mereka. Schroedinger pun tak pernah bisa menyamai popularitas Einstein.

Apakah mungkin bakal muncul fisikawan lain sekondang dan sejenius Einstein? “Mungkin ada Einstein di luar sana hari ini…. Tapi bakal makin susah bagi dia untuk dikenal,” kata Brian Greene, fisikawan dari Universitas Columbia, Amerika Serikat. David Gross, penerima Hadiah Nobel Fisika pada 2004, tak yakin bakal ada terobosan sebesar teori Einstein. “Tentu saja tak akan ada lagi Einstein berikutnya,” kata Gross kepada New York Times. Dunia fisika hari ini, kata Gross, terlalu luas untuk didominasi satu orang.

Einstein, menurut Edward Witten, fisikawan dari Universitas Princeton, berhasil menjawab pertanyaan yang kala itu pun belum terpikirkan orang. Tapi jenius fisika seperti Witten pun tak berani meramal bahwa tak akan ada lagi fisikawan sefenomenal Albert Einstein. “Siapakah aku ini berani mengatakan bahwa tak akan ada orang yang muncul dengan pemikiran yang benar-benar baru,” kata Witten.

Majalah Time menyebut Witten sebagai fisikawan teori paling brilian hari ini. Punya gelar sarjana sejarah, dia satu-satunya fisikawan yang pernah mendapatkan Medali Fields, penghargaan yang dianggap setara dengan Hadiah Nobel di bidang matematika. Tiga tahun lalu, Witten juga mendapat penghargaan Fundamental Physics Prize, yang sering disebut sebagai “Hadiah Nobel Fisika Abad Ke-21”. Tapi Witten, yang jago Teori String dan Teori M, pun masih jauh dari popularitas Einstein. Dan dia sudah kelewat tua untuk mengejarnya.

Namun bukan berarti hari ini begitu sedikit fisikawan muda brilian. Di antara penerima Fundamental Physics Prize, ada Nima Arkani Hamed, yang relatif masih muda. Fisikawan keturunan Iran itu pernah menjadi profesor fisika di Harvard sebelum pindah ke Institute for Advanced Study, Princeton. Nima begitu terobsesi memahami kerja alam semesta. “Kamu akan menjadi Einstein berikutnya,” Jafar Arkani Hamed, ayahnya, mengutip kata-kata guru fisika Nima di SMA.

Gayanya agak eksentrik, sangat santai, tapi dia juga “pemberontak”. Sehari-hari Nima lebih sering hanya mengenakan kaus dan bersandal. Di Harvard dan kampus sebelumnya, dia selalu melawan aturan parkir. “Dia membuat semua tempat jadi lebih hidup,” kata Melissa Franklin, fisikawan di Harvard, kepada Quanta. Kini Nima, 43 tahun, sudah membayangkan fisika setelah era Einstein. “Aku tak punya banyak waktu untuk bersantai,” kata Nima.

Taringa

Dua tahun lalu, dia setuju untuk menjabat Direktur Future High Energy Physics di Beijing. Pemerintah Tiongkok berambisi membangun “Great Collider” yang hampir empat kali lebih besar dari Large Hadron Collider (LHC) di Eropa. “Menjadi mahasiswa Nima Arkani rasanya seperti dilatih langsung oleh Usain Bolt di lintasan lari,” Clifford Cheung, mantan mahasiswanya di Harvard. Mungkin, Nima lah yang akan memecahkan sebagian pertanyaan besar fisika yang belum terjawab itu.

Sumber : http://news.detik.com/berita/3076535/inikah-calon-pengganti-einstein?single=1


Category: Sains